Sabtu, 04 Februari 2012 | 20.30 WIB
Waspada Badai Matahari Sampai Setahun Mendatang
TEMPO.CO, Jakarta
- Menurut peneliti matahari dari Observatorium Bosscha, Dhani
Herdiwijaya, selama satu tahun mendatang, bintik matahari terus tumbuh
di permukaan matahari sehingga ledakan skala besar sangat mungkin
terjadi. "Semakin mendekati puncak siklus (tahun 2003), flare semakin besar dan intensif," kata dia.
Tiga
ledakan besar terjadi di matahari selama pertengahan terakhir Januari
2012. Fenomena ini menandai bahwa bintang terdekat dari Bumi ini
memasuki periode aktifnya.
Menurut
Dhani, aktivitas matahari akan mencapai puncaknya pada tahun 2013.
Manusia sendiri tak perlu khawatir peningkatan aktivitas matahari ini
membahayakan nyawa. Ancaman terbesar justru berada pada peralatan
bikinan manusia yang berada di orbit, seperti satelit artifisial. Jika flare
kelas X terjadi dan terlepas ke Bumi, satelit yang melintas di sekitar
kutub mengalami gangguan teknis, bahkan bisa padam sementara. Jika hal
ini terjadi, sistem navigasi bisa terganggu sebagaimana terjadi pada
tahun 2000.
Badai matahari juga bisa mengganggu jaringan listrik
sebuah negara. Sebagaimana terjadi pada tahun 1989--pada siklus
ke-22--ketika badai matahari skala besar menghantam atmosfer. Serangan
ini membuat medan magnet Bumi di sekitar kutub menjadi tak stabil.
Pembangkit listrik di Provinsi Quebec, Kanada, adalah yang paling
terdampak. Lonjakan tegangan listrik menjadi tak terkendali, memicu
terbakarnya sekring sebuah transformator utama. "Serangan ini
berlangsung 90 detik, menyebabkan padamnya listrik di seluruh Quebec,"
ujar Dhani.
Setelah kejadian ini, enam juta orang yang bergantung
pada pembangkit listrik harus hidup tanpa cahaya. Selama 12 jam,
aktivitas perekonomian di Quebec lumpuh total. Sekolah-sekolah juga
diliburkan, sementara jaringan transportasi umum berhenti beroperasi.
Gangguan
oleh badai matahari juga terjadi di lantai bursa. Pada September 1989,
badai matahari kembali mempengaruhi medan magnet Bumi di sekitar kutub.
Kanada kembali menjadi negara terdampak. Komputer pribadi di penjuru
Kanada mengalami kerusakan sementara. Bursa efek ikut terpengaruh.
Selama tiga jam, cakram keras di pusat data bursa terganggu, menyebabkan
perdagangan di lantai bursa berhenti.
Sejak abad ke-15, peneliti
mempelajari perubahan pada matahari dan menemukan bahwa periode aktif
matahari berulang rata-rata setiap 11 tahun. Perulangan aktivitas ini
kemudian dikenal sebagai siklus 11 tahunan matahari.
Aktivitas
matahari bisa dilihat dari jumlah dan ukuran bintik matahari. Bintik ini
merupakan daerah dengan medan magnet yang rapat. Akibatnya, suhu
permukaan matahari di daerah ini lebih rendah dibandingkan suhu di
sekitarnya sehingga terlihat hitam. Ledakan matahari sendiri terjadi di
atas bintik saat medan magnet matahari mengalami arus pendek yang
melemparkan partikel bermuatan ke sisi luar tata surya. "Ledakan bisa
terjadi sewaktu-waktu," katanya.
Saat ledakan terjadi, berbagai
observatorium di permukaan Bumi bisa mengetahuinya delapan menit
kemudian. Hal ini disebabkan ledakan menghasilkan cahaya terang yang
membutuhkan waktu sekitar delapan menit untuk sampai di Bumi.
Partikel
yang terlontar dari matahari sendiri membutuhkan waktu lebih lama untuk
sampai di Bumi. Karenanya, manusia memiliki waktu sekitar 2-3 hari
untuk bersiap menghadapi badai matahari. Fenomena badai matahari sendiri
bisa diibaratkan dengan tsunami, ledakan terjadi terlebih dahulu lalu
disusul hantaman partikel beberapa waktu kemudian.
Sekarang
matahari sedang berada pada siklus ke-24. Periode ini dimulai sejak
2008, ketika kelompok bintik matahari bernomor 1.007 muncul di
permukaan. Fenomena apa saja yang terjadi sepanjang periode baru ini
bisa diketahui dengan melihat berbagai peristiwa yang terjadi pada
siklus sebelumnya.
Pada pertengahan tahun 2000, satu tahun
menjelang puncak siklus ke-23, serangkaian badai matahari terjadi di
angkasa. Tak ada catatan yang menunjukkan badai ini membahayakan manusia
di Bumi.
Meski demikian, bahaya tetap terjadi di luar angkasa. Pada Juli 2000, sebuah flare
kelas X5 mengakibatkan terjadinya badai matahari kuat. Kejadian ini
mengganggu satelit GPS, sehingga akurasi penentuan posisi amburadul
selama beberapa jam. Pada hari yang sama, beberapa perusahaan listrik
juga mengalami gangguan.
Badai yang sangat besar juga berdampak
pada pembentukan aurora. Penduduk Texas yang berada jauh dari kutub bisa
menyaksikan aurora terang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar